Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri pengertian-dan-konsep-dasar-paud. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri pengertian-dan-konsep-dasar-paud. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2020

Pengertian Dap (Developmentaly Appropriate Practice) Dalam Paud

Secara umum kegiatan pembelajaran di Pendidikan anak Usia dini  PENGERTIAN DAP (DEVELOPMENTALY APPROPRIATE PRACTICE) DALAM PAUD
---Secara umum kegiatan pembelajaran di Pendidikan anak Usia dini (PAUD) seyogyangan mengacu pada suatu standar tertentu. Berbicara mengenai DAP di PAUD, banyak sekali pengertian mengenai DAP yang dikemukakan oleh banyak sekali mahir atau pakar pendidikan anak. Seorang mahir yang berjulukan Sue Bredekamp sebagai penggagas DAP menyampaikan bahwa DAP bukan kurikulum, bukan merupakan suatu standar yang kaku yang mengharuskan suatu pembelajaran berlangsung, DAP ialah suatu kerangka kerja, sebuah filosofi atau pendekatan yang dipakai ketika bekerja bersentuhan dengan anak. Tujuannya ialah memusatkan perhatian kita pada segala sesuatu yang kita ketahui wacana anak dan apa yang sanggup kita pelajari wacana anak sebagai individu dan keluarga mereka sebagai dasar pengambilan keputusan. Sebagai individu yang unik harus dilihat bahwa setiap anak ialah istimewa yang mempunyai gaya belajar, minat, kepribadian, tempramen, kemampuan dan ketidakmampuan, tantangan dan kesulitan yang berbeda dari masing-masing anak, termasuk keterlambatan dan gangguan perkembangan. Anak juga harus dilihat dari latar belakang dan lingkungan keluarga, budaya dan komunitasnya, juga riwayat keluarga serta kondisi keluarga ketika ini.

Terjemahan bebas dari Developmentally Appropriate Practice (DAP) dalam bahasa Indonesia ialah “ Pendidikan yang patut dan menyenangkan”. Tiga dimiensi dalam konsep DAP ialah (1) Patut berdasarkan umur, maksudnya sesuai dengan tahap- tahap perkembangan anak, (2) Patut berdasarkan lingkungan sosial dan budaya, yaitu sesuai dengan pengalaman berguru yang bermakna, relevan dan sesuai dengan kondisi social budaya, dan (3) Patut secara individual, yaitu sesuai dengan pertumbuhan dan karakteristik anak, kelebihannya, ketertarikannya dan pengalaman- pengalamannya. 

Dalam kerangka pendidikan anak usia dini (PAUD) konsep DAP Developmentally Appropriate Practice meliputi 3 dimensi yaitu kesesuaian usia, kesesuaian individu, dan kesesuaian sosial budaya. Berikut penjelasannya :

1. Kesesuaian usia
Dalam penelitian wacana perkembangan insan menyebutkan bahwa dalam perkembangan 9 tahun pertama terjadi urutan pertumbuhan dan perubahan yang sanggup diramalkan. Perubahan tersebut terjadi pada semua aspek perkembangan fisik, emosi, sosial, dan kognitif. Pengetahuan wacana perkembangan dalam rentang usia ini difasilitasi melalui acara yang disiapkan dalam lingkungan pembelajaran dan perencanaan yang mengajak anak mengalami pembelajaran sesuai dengan usia anak.

2. Kesesuaian individu
Kenyataanya Setiap anak ialah individu yang unik dengan pola dan waktu pertumbuhan masing-masing. Demikian pula keunikan dalam kepribadian gaya belajar, dan latar belakang keluarga. Baik kurikulum maupun interaksi orang cukup umur dengan anak harus merespon terhadap perbedaan masing-masing individu. Pembelajaran pada anak usia dini merupakan hasil interaksi antara pikiran anak dan pengalaman dengan benda-benda, ide-ide dan orang lain di sekitar lingkungan anak. Pengalaman-pengalaman ini harus sesuai dengan kemampuan perkembangan anak, namun juga sanggup menantang minat dan pemahaman anak.

3. Kesesuaian Sosial dan Budaya
Anak itu unik dibuat oleh lingkungan sosial budayanya, sebab itu anak tidak bisa dicabut dari akar budayanya masing-masing. Mereka sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya. Seperti apa seorang anak, bisa kita lihat dari keluarganya khususnya orang tuanya. Latar belakang budaya akan besar lengan berkuasa terhadap anak. Tidak ada budaya yang buruk atau salah. Semua budaya ialah baik dan perlu dilestarikandan diturunkan dari generasi kegenerasi. Demikian pula lingkungan sosial anak tidak bisa kita salahkan. Karena itu dalam kelas bila kita mempunyai anak dari bermacam-macam latar belakang sosial dan budaya, maka guru harus bisa memahami dan memperlakukan anak sesuai lingkungan sosial budaya mereka.

Prirsip-prinsip DAP
Pada kegiatan dan acara pembelajaran di Lembaga PAUD, Dalam melaksanakan DAP, Perlu anda diperhatikan seni administrasi pembelajaranyang merupakan prinsip-prinsip DAP ialah sebagai berikut :

1. Pengalaman Pembelajaran Aktif
DAP memperlihatkan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi lingkungannya. Anak sanggup memanipulasi benda-benda kasatmata dan mempelajarinya pribadi melalui pengalaman kasatmata memakai tangannya. Dengan begitu anak secara bebas sanggup menggali, berinteraksi, dan komunikasi dengan anak lain maupun orang dewasa. Belajar di pusat merupakan salah satu kegiatan yang memperlihatkan kesempatan pada anak untuk pribadi mengalami pembelajaran secara nyata. Selain itu, anak juga perlu diajak untuk melaksanakan kunjungan lapangan (field-trip), memasak bereksperimen, ataupun kegiatan lain yang mendukung pengalaman langsung.

2. Strategi Pembelajaran yang Beragam
DAP mendorong penggunaan banyak sekali seni administrasi pembelajaran yang sanggup memenuhi kebutuhan anak. Pendekata-pendekatan tersebut bisa berupa kemampuan anak dalam proses menulis, membaca, berguru bersama, berguru mandiri, berguru dengan sobat sebaya, instruksi guru, tematik proyek, pusat pembelajaran, pembelajaran berbasiskan masalah, dan instruksi berbasiskan literatur. Dengan memperlihatkan bermacam-macam cara belajar, belum dewasa dengan gaya berguru yang bermacam-macam bisa menyebarkan kemampuan mereka. Pembelajaran dengan cara ibarat ini juga mendukung teori kecerdasan majemuk, dan memungkinkan anak memandang pembelajaran dengan cara-cara baru.

3. Keseimbangan antara Pengarahan Guru dan Kebebasan Anak
DAP bisa memperlihatkan keseimbangan antara kegiatan-kegiatan yang perlu pengarahan guru dan juga atas inisiatif anak sendiri. Pengarahan guru memfungsikan guru sebagai fasilitator yang memperlihatkan model pembelajaran dan panduan-panduan yang diharapkan anak. Sementara dari pihak anak, mereka sanggup berkreasi sendiri dengan bertanggung jawab sehingga tujuan pembelajaran tetap tercapai.

4. Kurikulum Terintegrasi
Sebuah kurikulum yang terintegrasi akan menghubungkan area pembelajaran yang bermacam-macam dan menggabungkannya dalam konsep terpadu. Ini akakn menggabungkan banyak subjek ke dalam satu paduan unit pembelajaran yang bermakna bagi anak. Sebuah kurikulum terintegrasi akan menghubungkan pembelajaran dalam kehidupan kasatmata anak. Juga mengenalkan pentingnya keterampilan-ketermapilan dasar dan kecendrungan bagi anak untuk menggunakannya. Salah satu teknik kurikulum terintegrasi ialah pendekatan tematik yang mengajak anak untuk menyelediki sesuatu yang diminati dari banyak sekali sudut pandang. Tema umum menjadi teladan untuk menyebarkan konsep-konsep, menggeneralisasikan keterampilan-keterampilan, dan sikap-sikap. Namun demikian, tidak semua kurikulum terintegrasi berpusat pada tema.

5. Sentra Pembelajaran
Sentra pembelajaran merupakan area/sentra sanggup berdiri diatas kaki sendiri yang dibuka di dalam kelas sehingga anak sanggup secara kasatmata melaksanakan suatu kegiatan. Anak sanggup menentukan dan memutuskan berapa usang akan beraktivitas dalam suatu kegiatan. Di pusat tersebut anak sanggup dapat bekerja bersama sobat secara kooperatif, membangun dengan teman, melaksanakan keterampilan-keterampilan dengan tangannya, memecahkan masalah, berguru secara mandiri, dan kegiatan-kegiatan terbuka lainnya yang bebas dipilih anak. Sentra pembelajaran harus mencerminkan tujuan pembelajaran yang aktif, tidak banyak lembar kerja yang harus diisi anak, namun memperlihatkan kesempatan pada anak untuk bertanggung jawab terhadap pembelajaran sendiri. Tanggung jawab semacam ini merupakan pondasi pembelajaran seumur hidup.

Demikianlah bunda, ayah dan sahabat Paud-anak bermain belajar, wacana DAP dalam kegiatan dan acara PAUD, biar bermanfaat. Selamat mendidik belum dewasa generasi penerus bangsa, biar sukses. Terimakasih.

Sumber /referensi:
http://chantekmekap.blogspot.com/search?q=20/strategi-pembelajaran-dap-developmentally-appropriate-practice/
http://12075itda.blogspot.co.id/2013/06/pendidikan-anak-prasekolah 

Kamis, 02 Januari 2020

Persiapan Berhitung Permulaan Anak Tk/Paud

Sebenarnya acara berhitung merupakan tahapan dasar anak mengenal angka, sehingga anak bisa menghitung. Harusnya, awal mencar ilmu Baca Tulis dan berhitung (calistung) ini, banyak disampaikan di sekolah dasar, namun yang terjadi di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bimbingan Belajar (Bimbel), Taman Kanak-Kanak (TK) dan lainnya juga sudah mengajarkan hal tersebut.

Sebenarnya usia yang sempurna untuk anak mulai mencar ilmu Baik Baca, Tulis dan Berhitung (calistung) ini saat anak sudah berusia 5 tahun. Karena pada usia tersebut anak sudah mulai ada kesiapan daya pikir, kesiapan perilaku dalam mencar ilmu dan kesiapan motorik halus, terutama pada tangan dan jari-jari untuk menulis.

Sedangkan untuk anak usia 3 tahun (batita) yang sebetulnya masih berada pada tahap perkembangan, kebutuhan utamanya ialah berbagi kemampuan fisik-motorik dan kemampuan berekspolasi terhadap lingkungannya serta berbagi kemampuan dalam bahasa dan komunukasi, terutama dalam berkomunikasi secara verbal dalam pergaulan sosialnya. Makara masih belum dibutuhkan untuk diajarkan baca tulis dan berhitung ini. Kalaupun ingin di ajarkan sebaiknya hanya yang bersifat pengenalan dan persiapan dasar, baik membaca, menulis dan berhitungnya, ini pun dilakukan harus dengan cara bermain..bermain dan bermain ya bunda....!!.

Landasan Teori Permainan Berhitung 
 
1. Tingkat perkembangan mental anak
Jean Piaget : Anak usia Taman Kanak-kanak berada pd tahapan pra-operasional konkrit yaitu tahap persiapan kearah pengorganisasian pekerjaan yg konkrit dan berpikir intuitif dimana anak bisa mempertimbangkan perihal besar, bentuk dan benda-benda didasarkan pd interpretasi dan pengalamannya ( persepsinya sendiri ).

2. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar.
Apabila anak sudah mengambarkan masa peka (kematangan) untuk berhitung maka ortu dan guru Taman Kanak-kanak harus tanggap.

3. Perkembangan awal menentukan perkembangan selanjutnya.

Hurlock(1993) : Bahwa lima tahun pertama dlm kehidupan anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya.Anak yg mengalami masa senang berarti terpenuhinya segala kebutuhan baik fisik mapun psikis di awal perkembangannya diramalkan akan sanggup melakukan kiprah perkembangan

Konsep bentuk warna, ukuran dan pola

Usia 4 – < 5tahun
  • Mengklasifikasikan menurut bentuk atau warna atau ukuran
  • Mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok yg sejenis atau kelompok yang berpasangan dengan 2 variasi
  • Mengenal pola AB-AB dan ABC-ABC
  • Mengurutkan benda menurut variasi ukuran atau warna

Usia 5 – < 6 tahun
  • Mengenal perbedaan menurut ukuran “ lebih dari “ “ kurang dari “ dan “ paling ter “
  • Mengklasifikasikan benda menurut bentuk dan ukuran ( 3 variasi )
  • Mengklasivikasikan benda yang lebih banyak ke dalam kelompok yg sama atau kelompok yg sejenis atau kelompok berpasangan yg lebih dari 2 variasi
4. Mengenal pola ABCD – ABCD

5. Mengurutkan benda menurut ukuran dari paling kecil ke paling besar atau sebaliknya

 
Tahapan penguasaan berhitung dijalur matematika yaitu :
1. Penguasaan konsep Pemahaman dan pengertian sesuatu dg memakai benda dan insiden konkrit, spt pengenalan warna, bentuk dan menghitung bilangan.

2. Masa Transisi
Proses berfikir yg merupakan masa peralihan dr pemahaman konkrit menuju pengenalan lambang yg abstrak, dimana benda konkrit itu masih ada dan mulai dikenalkan bentuk lambangnya. Dilakukan guru secara sedikit demi sedikit sesuai dg laju dan kecepatan kemampuan anak secara individual.

3. Lambang
Merupakan visualisasi dari banyak sekali konsep contohnya lambang 7 unt menggambarkan konsep bilangan tujuh, merah unt menggambarkan konsep warna, besar unt menggambarkan konsep ruang dan persegi empat unt menggambarkan konsep bentuk.

Konsep berhitung yg harus dikenalkan kepada anak :
1. Korespondensi Satu Satu
Pertama mulailah dg mencoba-coba membilang dr tingkatan yg sangat sederhana.contoh : satu buku, satu pensil,dst.

2. Pola
Pola merupakan kemampuan unt memunculkan pengaturan sehingga anak bisa memperkirakan urutan berikutnya sesudah melihat bentuk 2-3 pola yg berurutan.

3. Memilah/menyortir/klasifikasi
pengelompokan menurut atribut, bentuk, ukuran, jenis warna,dll.

4. Membilang
Menghafal bilangan merupakan kemampuan mengulang angka yg akan membantu pemahaman anak akan arti sebuah angka.contoh : 1 2 3 4 5 6 7 8………dst.

5. Makna angka dan pengenalannya
Setiap angka mempunyai makna dr benda-benda/simbol-simbol= 3 bintang
Dikenalkan pd bentuk-bentuk yg sama/tdk sama, besar kecil dsb.

6. Ukuran
Anak perlu mengalaman akan mengukur berat, isi, panjang dg cara mengukur eksklusif sehingga prosesmenemukan angka dr sebuah objek.

7. Dua hal ini merupakan bab dr proses kehidupan sehari-hari.
Contoh :
Waktu : 1 hari Ruang : Sempit
2 hari Luas

8. Penambahan dan pengurangan
2 hal sanggup dikenalkan pada anak pra sekolah dengan memanipulasi benda.
contoh : Penambahan
4+ 2 =6
contoh : Pengurangan
5- 2= 3
Konsep klasifikasi/pengelompokan
Kegiatan meletakkan benda- benda ke dalam sebuah kelompok dengan cara memilah benda- benda yang mempunyai satu atau lebih ciri sama (menyerupai)dan merupakan keterampilan dasar dalam membentuk pola grafik, bangun, ruang dan pengukuran
Jalur Matematika Di TK.

1. Bermain pola
Anak dibutuhkan dpt mengenal dan menyusun pola-pola yg terdapat disekitarnya.Anak bisa menciptakan urutan pola sendiri sesuai dg kreativitasnya.

2. Bermain Klasifikasi
Anak dibutuhkan dpt mengelompokkan atau menentukan benda menurut jenis, fungsi, warna, bentuk pasangannya sesuai dg yg dicontohkan dan kiprah yg diberikan oleh guru.

3. Bermain Bilangan
Anak dibutuhkan bisa mengenal dan memahami konsep bilangan, transisi dan lambang sesuai dg jumlah benda-benda pengenalan bentuk lambang dan dpt mencocokan sesuai dg lambang bilangan.

4. Bermain Ukuran
Anak dibutuhkan dpt mengenal konsep ukuran standard yg bersifat informal atau alamiah, mirip panjang, tinggi, dan isi melalui alat ukur alamiah, antara lain jengkal, jari, langkah, tali, tongkat.

5. Bermain Geometri
Anak dibutuhkan sanggup mengenal dan menyebutkan banyak sekali macam benda menurut bentuk geometri dg cara mengamati benda benda yg ada disekitar anak mis lingkaran,segitiga,bujur sangkar, segi empat, segi lima,segi enam,setengah lingkaran,bulat telur (oval).

6. Bermain estimasi (memperkirakan)
Anak dibutuhkan sanggup mengenal kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu contohnya asumsi terhadap waktu, luas jumlah ataupun ruang. 
Anak terlatih untuk mengantisipasi banyak sekali kemungkinan yg akan dihadapi
Perkiraan waktu misalnya:
  • Berapa hari biji tumbuh
  • Berapa usang kita makan
  • Berapa usang anak sanggup memantulkan bola
  • Berapa ketukan gambarnya selesai
  • Perkiraan jumlah. Misalnya berapa jumlah ikan yg ada dalam aquarium.
  • Perkiraan ruang contohnya : Berapa anak bergandengan untuk sanggup mengelilingi kelas ini.
7. Bermain Statistika.
Anak dibutuhkan sanggup mempunyai kemampuan untuk memahami perbedaan dalam jumlahdan perbandingan dan hasil pengamatan terhadap suatu obyek (dalam bentuk visual).

Prinsip-Pinsip Permainan Berhitung permulaan

1. Permainan berhitung diberikan secara bertahap.
2. Pengetahuan dan keterampilan pada permainan berhitung diberikan secara bertahap.
3. Permainan berhitung akan berhasil bila anak diberi kesempatan berprtsp
4. Permainan berhitung membutuhkan suasana menyenangkan dan rasa aman.
5. Bahasa yg dipakai seyogyanya yang sederhana.
6. Anak dikelompokkan sesuai dengan tahap penguasaanya.
7. Dalam mengevaluasi hasil perkembangan harus dimulai dari awal hingga akhir.

Demikian Tentang persiapan Bermain Berhitung Permulaan untuk anak TK/PAUD, Semoga bermanfaat. Terimakasih. Wassalam.....

Arti Dan Pengertian Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Paud-Ni

Kemaren dalam diskusi di pertemuan Gugus PAUD ada pertanyaan dari salah satu penerima Perte ARTI DAN PENGERTIAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PAUD-NI
Kemaren dalam diskusi di pertemuan Gugus PAUD ada pertanyaan dari salah satu penerima Pertemuan (Pendidik PAUD). Bunda ini selain sebagai pendidik PAUD, beliau juga mengajar sebagai tutor di sebuah PKBM sebagai tutor Kejar Paket B Setara SMP. Bunda bertanya ihwal apa yang dimaksud dengan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam PAUDNI atau disebut juga PTK-PAUD-NI, PTK-PAUDPNFI itu?, dalam pertemuan yang rasanya terlalu singkat tersebut, belum sempat kita uraikan mengenai PTK_PAUDPNFI-NI tersebut, untuk lebih jelasnya, jadi bunda sanggup menyimak saja artikelnya ibarat berikut ini :

Filosofi

Belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, pendidikan nonformal dan informal. Belajar sepanjang hayat berasumsi bahwa proses mencar ilmu terjadi seumur hidup walaupun dengan cara yang berbeda dan proses yang berbeda. Khususnya pada anak usia dini lingkungan selalu besar lengan berkuasa terhadap perkembangan anak, khususnya pada anak kecil.

Kondisi lingkungan sanggup terjadi anak mengalami kendala dalam perkembangannya atau bahkan mengalami penyimpangan perkembangan, baik dalam aspek kognitif, emosi, sosial, spiritual maupun fisik. Karenanya pendidik/guru dan orangtua dituntut untuk sanggup memahami kondisi anak serta memperlihatkan perlakuan khusus pada anak biar tidak timbul stress berat yang berkepanjangan.

Dalam kondisi ibarat ini stimulasi yang diberikan pada anak harus sangat hati-hati. Artinya jadwal harus memperhatikan kondisi psikologis anak baik untuk tujuan stimulasi, waktu stimulasi, aspek yang distimulasi maupun media yang akan dipakai untuk menstimulasi. Uraian di atas menguatkan pendapat bahwa pendidikan dan stimulasi anak seharusnya dilakukan secara utuh dan holistik.

Konsep ini didasarkan pada pandangan bahwa setiap pendidik anak harus memperhatikan tumbuh kembang dan kebutuhan anak, situasi serta latar belakang anak dan ada kolaborasi yang aman antar aneka macam instansi terkait.

Pengertian Holistik mengandung arti seluruh sistem yang melengkapi proses tumbuh kembang anak, berpusat dan terintegrasi pada PAUD yang berorientasi untuk kepentingan terbaik bagi anak. Anak tumbuh dan berkembang dalam suatu proses yang komplek, dinamis, dalam lingkungan dimana anak secara aktif berinteraksi dengan lingkungan yang terjadi secara sistematik konstektual.

Pendidikan anak usia dini sebagai awal dari perkembangan seorang insan menempati fase utama. Pada masa ini disebut sebagai golden age dan penanganannya memerlukan strategi, metode, serta jadwal yang sistematis dan kontinyu.

Pendidikan ini akan memberi landasaan awal anak untuk mengoptimalkan aspek-aspek perkembangan di masa golden age serta menginternalisasikan dan membiasakan karakter bangsa yang akan dipakai sebagai kemampuan dan sikap yang berkarakter untuk memasuki tingkat pendidikan selanjutnya.

Pengembangan (pemberdayaan dan tumbuh–kembangkan) eksklusif bukannya pembentukan pribadi, jadi tidak membentuk kepribadian gres dan mengubah talenta dasar anak ( Prof.Dr. Retno S. Sudibyo, M.Sc. Apt, )

Layanan pendidikan nonformal dan informal bertujuan untuk mendapat layanan pendidikan yang tidak diperoleh dari pendidikan formal, mengatasi dari kemunduran pendidikan sebelumnya, untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, meningkatkan keahlian, menyebarkan kepribadian atau untuk beberapa tujuan lainnya (Cropley, 1972).

Dengan pemaknaan ibarat itu maka keberadaan pendidikan nonformal dan informal sanggup memainkan kiprah sebagai pengganti (substitute), aksesori (complement), dan/atau penambah (suplement), dan yang diselenggarakan pendidikan formal. Pendidikan informal merupakan pendidikan dikeluarga dan di lingkungan yang berbentuk acara mencar ilmu secara mandiri.

Filosofi tersebut di atas, telah menempatkan PAUDNI pada posisi strategis dalam keseluruhan sistem pendidikan nasional. Filosofi tersebut menimbulkan PAUD mempunyai karakteristik tersendiri yang unik dan spesifik sehingga sangat berbeda dengan karakteristik pendidikan formal.

Keunikan PAUDNI tersebut sanggup disimak dari klarifikasi Sudjana (2000) yang mengidentifikasi karakteristik pendidikan nonformal dari lima 5 perspektif yakni: pertama, ditinjau dari tujuannya, pendidikan nonformal bersifat jangka pendek dan khusus, serta kurang menekankan pada ijazah. Kedua, ditinjau dari waktunya, relatif singkat, lebih menekankan pada masa kini dan memakai waktu tidak terus menerus. Ketiga, ditinjau dari isi programnya, kurikulum berpusat pada kepentingan warga belajar, mengutamakan penerapan. Keempat, ditinjau dari proses pembelajarannya, pendidikan nonformal dipusatkan di lingkungan masyarakat, berkaitan dengan kehidupan warga mencar ilmu dan masyarakat, dan kelima, ditinjau dari aspek pengendaliannya, dikendalikan secara gotong royong oleh pelaksana jadwal dan warga belajar, serta mengutamakan pendekatan demokratis.
 
Jenis dan Kondisi Sasaran PTK PAUDNI
Ruang lingkup yang menjadi target jadwal pembinaan dalam rangka peningkatan mutu PTK PAUDNI meliputi:


a. Pendidik PAUDNI

Pendidik PAUDNI yakni anggota masyarakat yang mempunyai kiprah dan kewenangan dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melaksanakan pembimbingan dan pelatihan.

Pendidik pada PAUDNI ini meliputi:

Pamong Belajar, yaitu Pegawai Negeri Sipil yang berstatus sebagai tenaga fungsional dan diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan acara mencar ilmu mengajar, pengembangan model pembelajaran serta penilaian hasil pembelajaran pendidikan nonformal dan informal.

Kemaren dalam diskusi di pertemuan Gugus PAUD ada pertanyaan dari salah satu penerima Perte ARTI DAN PENGERTIAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PAUD-NI
Pamong Belajar SKB

Pendidik PAUD yaitu pendidik profesional dengan kiprah utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi penerima didik pada satuan pendidikan anak usia dini.
 
Kemaren dalam diskusi di pertemuan Gugus PAUD ada pertanyaan dari salah satu penerima Perte ARTI DAN PENGERTIAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PAUD-NI
Pendidik PAUD

Tutor Pendidikan Keaksaraan yaitu pendidik yang berasal dari masyarakat yang bertugas dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi proses pembelajaran pada pendidikan keaksaraan.
Kemaren dalam diskusi di pertemuan Gugus PAUD ada pertanyaan dari salah satu penerima Perte ARTI DAN PENGERTIAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PAUD-NI
Tutor Pendidikan Keaksaraan
Fasilitator Desa Intensif (FDI), yaitu tenaga kontrak berpendidikan sarjana yang bertugas memperlihatkan layanan PAUDNI yang merata dan berkualitas, terutama bagi masyarakat yang bermukim di desa-desa dengan kategori terpencil dan tertinggal.
 
FDI - TLD PAUDNI
 
Instruktur kursus dan pembinaan yaitu pendidik yang direkrut oleh forum kursus menurut keahlian dan kompetensinya.

Kemaren dalam diskusi di pertemuan Gugus PAUD ada pertanyaan dari salah satu penerima Perte ARTI DAN PENGERTIAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PAUD-NI
Instruktur Kursus dan Pelatihan
 
Pembina Pramuka, yaitu pendidik profesional dengan kiprah utama merencanakan dan melaksanaan pembinaan pramuka pada satuan PAUDNI.

b. Tenaga Kependidikan PAUDNI

Tenaga kependidikan PAUDNI yakni anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan jadwal PAUDNI yang bertugas melaksanakan manajemen pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan PAUDNI.

Tenaga Kependidikan PAUDNI meliputi:

Penilik, yaitu Pegawai Negeri Sipil yang berstatus sebagai tenaga fungsional yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengendalian mutu dan penilaian efek jadwal PAUDNI.

Tenaga Lapangan Dikmas (TLD), yaitu tenaga yang berstatus sebagai tenaga kontrak dengan latar pendidikan sarjana, yang bertugas mendukung penyelenggaraan jadwal PAUDNI di kabupaten/kota.
Pengelola/Penyelenggara Satuan PAUDNI, yaitu tenaga yang melaksanakan pengorganisasian acara pada suatu kelompok tertentu guna menyelenggarakan satu atau beberapa jadwal PAUDNI.

Tenaga Administrasi, yaitu tenaga yang diberi kiprah dan kewenangan menyelenggarakan tertib administratif pada satuan PAUDNI.

Tenaga Perpustakaan/Pustakawan, yaitu tenaga yang diberi kiprah dan kewenangan menyelenggarakan/mengelola serta memperlihatkan pelayanan pada lembaga/unit perpustakaan/taman bacaan masyarakat.

Nara Sumber Teknis, yaitu tenaga yang mempunyai kompetensi dan sertifikasi pada bidang keterampilan tertentu, serta dilibatkan dalam upaya peningkatan kemampuan target jadwal PAUDNI pada satuan pendidikan.

Laboran yaitu tenaga yang diberi kiprah dan kewenangan untuk mengelola laboratorium praktik pada satuan PAUDNI.

Source: http://paudni.kemdikbud.go.id/

Rabu, 01 Januari 2020

Mengenal Pengertian Dan Manfaat Bermain Simbolik Pada Anak Usia Dini (Paud)

----pada acara Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) khususnya dalam konsep pembelajaran berbasis pusat dan BCCT kita mengenal acara bermain simbolik pada anak. Kegiatan sering terlihat dalam banyak sekali kesempatan di keseharian PAUD, anak tidak hanya bermain sendiri, tetapi juga bermain simbolik bahu-membahu dengan teman-temannya. Apa sich bermain simbolik itu ? dan bagaimana keuntungannya untuk anak ?, nah dalam kesempatan ini kami penulis blog , akan menguraikan sedikit ihwal bermain simbolik pada anak usia dini tersebut, sebagai berikut;
pada acara Pendidikan Anak Usia Dini  MENGENAL PENGERTIAN DAN MANFAAT BERMAIN SIMBOLIK PADA ANAK USIA DINI (PAUD)
 
Secara pengertian bermain simbolik sendiri memiliki banyak istilah, ibarat kita sering mendengar bermain pura-puraan, pura-pura, engga beneran, bermain hayal atau bermain peran. Bermain simbolik ialah acara bermain yang ditandai oleh kemampuan anak untuk merepresentasikan pengalaman nyata atau khayalannya melalui penggunaan penggunaan beberapa objek, gerakan, dan bahasa (Yawkey & Pellegrini, 1997). Menurut Papalia, di dalam acara bermain simbolik, belum dewasa menggunakan objek untuk mewakili atau menjadi simbol dari sesuatu yang lain, contohnya boneka dianggap sebagai bayi. lebih jauh Papalia mengungkapkan bahwa kalau ditinjau dari kompleksitasnya, acara ini merupakan jenis bermain yang lebih kompleks dari acara bermain fungsional maupun konstruktif. Kegiatan bermain simbolik muncul di tamat tahap sensorimotor. 

Banyak psikolog dan hebat pendidikan beranggapan bahwa banyaknya waktu yang dipakai oleh anak untuk bermain simbolik semenjak usia di bawah tiga tahun hingga permulaan sekolah dasar memiliki peranan penting dalam kehidupan anak. Piaget dan Iheldel (1969) mengungkapkan bahwa bermain simbolik merupakan "puncak" (the apoggee) acara bermain pada anak lantaran memiliki beberapa manfaat berkaitan dengan perkembangan emosi, sosial, dan kognitif (bahasa).

Dari segi emosi anak memiliki kesempatan untuk melaksanakan asimilasi sesuai dengan kebutuhannya, yaitu melalui transformasi dari keadaan sebetulnya menjadi sesuatu yang diinginkan. Timbul perasaan puas dan lega lantaran anak berhasil melampiaskan segala keinginannya, tanpa merasa takut akan hukuman yang akan diterimanya dari orang dewasa. Selain itu, anak juga berguru untuk menjalankan banyak sekali kiprah dan beradaptasi dengan emosi yang tidak menyenangkan, memperoleh kebahagiaan lantaran sanggup melampiaskan kreativitasnya, memperoleh pemahaman terhadap sudut pandang orang lain. Dalam aspek sosial, anak berguru mengembangkan keterampilan untuk memecahkan banyak sekali masalah. 
 
pada acara Pendidikan Anak Usia Dini  MENGENAL PENGERTIAN DAN MANFAAT BERMAIN SIMBOLIK PADA ANAK USIA DINI (PAUD)

Dari segi aspek kognitif, bermain simbolik memperlihatkan dukungan pada perkembangan intelektual anak alasannya ialah secara bergantian terjadi asimilasi dan akomodasi, Piaget dan Inhelder (1969). Singer menyampaikan bahwa bermain simbolik akan berbagi kemampuan anak untuk berpikir aneh dan kemungkinan untuk berpura-pura, serta mempelajari kata-kata maupun ungkapan gres yang bersumber dari kiprah yang dimainkan anak dalam situasi yang serba baru.
 
Seorang Ahli berjulukan Smilansky, pernah melaksanakan penelitian dan mengamati ihwal belum dewasa yang berasal dari keluarga kelas sosial ekonomi rendah kurang terlibat di dalam acara bermain sosiodrama (simbolik), hal ini ternyata menciptakan belum dewasa tersebut banyak mengalami kesulitan akademis di sekolanya. Smilansky memperlihatkan dugaan sementara bahwa kesulitan yang dialami belum dewasa ini di sekolah disebabkan lantaran mereka tidak bisa bermain peran. Bermain sosiodrama meningkatkan keterampilan sosial, merangsang perkembangan bahasa, dan memberi peluang bagi anak untuk menggunakan serta menginterpretasikan simbol-simbol. Oleh lantaran itu, belum dewasa yang tidak bisa bermain simbolik lebih sulit untuk beradaptasi dengan tugas-tugas sekolah bila dibandingkan dengan belum dewasa yang terbiasa bermain sosiodrama.

Demikianlah bunda sekilas ihwal pengertian dan manfaat bermain simbolik pada anak usia dini khususnya dalam acara bermain di PAUD, supaya sanggup bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita ihwal konsep bermain pada anak. Terimakasih sudah berkunjung kembali ke weblog ini. Wassalam.

Developmentally Appropriati Practise

---Di dalam menyebarkan aspek fisik, sosial, emosional dan kognitif dari seorang anak selain dibutuhkan lingkungan yang aman dan memperlihatkan pengasuhan yang baik maka hal lain yang perlu dipahami oleh orang renta dan para guru-pendidik PAUD yaitu prinsip perkembang yang mengacu pada Developmentally appropriate practice (latihan yang sesuai dengan perkembangan).

Pengertian DAP (Developmentally Appropriate Practice) DAP atau dalam terjemahan bebas Bahasa Indonesia yaitu pendidikan yang patut dan menyenangkan sesuai dengan tahapan perkembangan anak, mencerminkan proses pembelajaran yang bersifat interaktif. Konsep DAP yang dikembangkan melalui baragam acara yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak menimbulkan anak mempunyai pengalaman yang kongkrit serta menyenangkan ketika terjadinya proses belajar, sehingga sanggup menumbuhkan kesadaran (awareness) pada anak.

Terjemahan bebas dari Developmentally Appropriate Practice (DAP) dalam bahasa Indonesia yaitu “ Pendidikan yang patut dan mneyenangkan”. Tiga dimiensi dalam konsep DAP yaitu (1) Patut berdasarkan umur, maksudnya sesuai dengan tahap- tahap perkembangan anak, (2) Patut berdasarkan lingkungan sosial dan budaya, yaitu sesuai dengan pengalaman berguru yang bermakna, relevan dan sesuai dengan kondisi social budaya, dan (3) Patut secara individual, yaitu sesuai dengan pertumbuhan dan karakteristik anak, kelebihannya, ketertarikannya dan pengalaman- pengalamannya. (Baca juga pengertian Developmentally appropriate practise dalam PAUD di sini !!

Pengalaman belum dewasa yaitu membedah perasaan, dan tidak hanya sikap terbuka dengan meberikan belum dewasa suatu lingkungan dan emosi-emosi yang dikehendaki akan lazim dan emosi-emosi yang tidak dikehendaki menjadi jarang.

 emosional dan kognitif dari seorang anak selain dibutuhkan lingkungan yang aman dan membe DEVELOPMENTALLY APPROPRIATI PRACTISE

Konsep Developmentally appropriate practise  (latihan yang sesuai dengan perkembangan), meliputi tida aspek yaitu :
  1. Kesesuaian Usia, dimana pertumbuhan dan perubahan yang terjadi pada anak di 9 tahun pertama kehidupan bersifat universal dan ada pada urutan yang sanggup diprediksi. Adapun perubahan yang terjadi secara terprediksi meliputi perubahan fisik, emosional, sosial dan kognitif. Sehingga orangtua maupun guru sanggup menyiapkan lingkungan pembelajaran dan pengalaman yang sesuai secara terencana.
  2. Kesesuaian secara individual. Setiap anak merupakan makhluk yang unik ia mempunyai pola dan waktu untuk berkembang yang berbeda satu sama lain, sama ibarat kepribadian, gaya berguru yang sangat individual. Dalam menyiapkan proses pembelajaran harus sanggup mengakomodasikan keunikan dari masing-masing anak.
  3. Kesesuaian secara sosial dan budaya. Latar belakang sosial dan budaya anak yang berbeda harus dipahami oleh tenaga pendidik, dan keadaan ini sanggup dijadikan materi contoh dalam mempersiapkan materi yang sesuai dan berarti bagi kehidupan anak. Misalnya anak anak yang hidup di kawasan pantai akan lebih gampang memahami setiap isu gres jikalau berkaitan dengan laut, pantai, ikan, pohon kelapa dan lain-lain.

Ketika menerapkan Develompentally appropriate practice (latihan yang sesuai dengan perkembangan). maka ada 5 dimensi yang saling berkaitan yang harus menjadi perhatian yaitu :
  1. Menciptakan komunitas berguru yang kodusif; dimana sanggup terjadi hubungan baik antara anak dan orang dewasa, anak dengan anak, diantara guru-guru sendiri dan antara guru dan keluarga. Komunitas tersebut mewujudkan situasi pengasuhan yang aman yang sanggup menunjang anak berkembang dan belajar.
  2. Menciptakan cara pengajara yang sanggup meningkatkan dan memperbaiki perkembangan dan proses belajar; pendidik anak usia dini berusaha untuk mencapai keseimbangan antara membimbing anak untuk berguru dan juga mengikuti instruksi mereka.
  3. Membangun kurikulum yang sesuai; isi dari sajian pembelajaran anak usia dini meliputi subyek yang dipelajari, nilai-nilai sosial dan budaya, masukan dari orang tua, usia dan pengalaman dari belum dewasa sendiri. 
  4. Memberikan evaluasi terhadap perkembangan dan proses berguru anak; evaluasi terhadap perkembangan dan proses berguru masing-masing individu penting untuk menciptakan perencanaan dan implementasi sajian pembelajaran yang sesuai.
  5. Membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan keluarga; Develompentally appropriate practice sangat memerlukan pengetahuan yang mendalam mengenai kondisi individual anak dan konteks lingkungan dimana anak berkembang dan belajar. Dengan demikian menjalin hubungan yang erat dengan keluarga akan sangat menunjang.
 emosional dan kognitif dari seorang anak selain dibutuhkan lingkungan yang aman dan membe DEVELOPMENTALLY APPROPRIATI PRACTISE


DAP mencerminkan suatu pembelajaran yang interaktif dan berpandangan konstruktivisme. Kunci dari pendekatan ini yaitu prinsip bahwa anak intinya membangun atau mengkonstruk sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan sosial dan fisik mereka. Dalam pendekatan ini diupayakan biar anak sanggup memotivasi dan mengarahkan diri secara intrinsik, pembelajaran yang efektif yang bisa membangkitkan keingintahuan mereka melalui acara eksplorasi, eksperimen dan dalam pengalaman nyata.

Adapun Vogotsky beropini bahwa bermain dan aktifitas yang bersifat konkrit sanggup memperlihatkan momentum alami bagi anak untuk berguru sesuatu yang sesuai dengan tahap perkembangan umurnya (age appropriate), dan kebutuhan spesifik anak (individual needs). Bermain yaitu cara yang paling efektif untuk mematangkan perkembangan anak pada usia pra-sekolah (Pre-operatioanal thinking), dan pada masa sekolah dasar (Concrete operatioanal thinking).

Demikian tentang Developmentally appropriate practise  (latihan yang sesuai dengan perkembangan),  Semoga bermanfaat. Terimakasih.


Baca juga pengertian DAP selengkapnya klik di sini !!

Kamis, 02 Januari 2020

Permainan Berhitung Permulaan Di Tk Paud

PENGERTIAN DAN TEORI PERMAINAN BERHITUNG DI Taman Kanak-kanak PAUD

Berhitung ialah perjuangan melakukan, mengerjakan hitungan mirip menjumlah, mengurangi serta memanipulasi bilangan-bilangan dan lambang-lambang matematika, sedangkan untuk mengetahui tingkat kemampuan berhitung siswa dipakai metode tes.

Metode tes ialah serentetan pertanyan atau latihan atau alat lain yang dipakai pada lingkup perkembangan. Metode tes ialah termasuk metode non eksperimental. Berikut ini ialah metode-metode eksperimental antara lain :
a. Metode pengamatan, suatu cara untuk mencatat tingkah laris tertentu dari orang yang diamati dengan memakai pedoman observasi.
b. Metode survei, suatu metode yang dipakai untuk mempelajari beberapa duduk masalah yang sulit dipelajari melalui metode pengamatan dan memakai kuesioner atau wawancara.
c. Metode klinis, suatu metode yang dipakai untuk mengamati seseorang di kawasan khusus yang telah disediakan, sehingga sanggup diketahui perilaku-perilaku dan pernyataan-pernyataannya yang impulsif dengan tujuan paedagogis atau medis.
d. Metode angket, suatu cara dengan memakai daftar pertanyaan atau pertanyaan yang diberikan kepada sejumlah orang yang harus dijawab, untuk kemudian dicari simpulan umum.
e. Metode wawancara, suatu cara untuk menggali pendapat, perasaan, sikap, pandangan, proses berpikir, proses penginderaan dan banyak sekali hal yang merupakan tingkah laris covert yang tidak sanggup ditangkap pribadi oleh atau melalui metode observasi.
f. Metode sejarah kehidupan, suatu metode yang dipakai untuk mengetahui tingkah laris seseorang dengan segala latar belakangnya. Melalui penelitian buku harian atau wawancara perihal masa kemudian subjek.
g. Metode tes (pemeriksaan psikologis), suatu metode yang dipakai untuk menyidik hal-hal yang tidak sanggup diketahui dengan metode-metode lain, mirip IQ, kepribadian, arah minat, kecemasan dengan memakai tes psikodiagnostik.

Minat penelitian ilmiah perihal anak menerima dorongan yang besar sesudah G. Stanley Hall mengawali penelitiannya perihal konsep anak (1891) dengan tekanan bahwa anak bukan orang berilmu balig cukup akal kecil. Pandangan ini diterima oleh murid-muridnya yang tidak usang kemudian diikuti oleh banyak psikolog dan andal pendidikan.

Beberapa teori yang mendasari perlunya permainan berhitung di taman kanak-kanak sebagai berikut :

a. Tingkat perkembangan mental anak
Jean Piaget, menyatakan bahwa kegiatan berguru memerlukan kesiapan dalam pendidikan anak. Artinya berguru sebgai proses membutuhkan kegiatan baik fisik maupun psikis. Selain itu kegiatan berguru pada anak harus diadaptasi dengan tahap-tahap perkembangan.
Anak usia Taman Kanak-kanak berada pada tahapan pra operasional kongkret dan berpikir intuitif dimana anak bisa mempertimbangkan perihal besar, bentuk dan benda-benda didasarkan pada interprestasi dan pengalamannya (persepsi sendiri).

b. Masa peka berhitung pada anak
Perkembangan dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Apabila anak sudah memperlihatkan masa peka (kematangan) untuk berhitung, maka orang bau tanah dan guru harus tanggap, untuk segera memperlihatkan layanan dan bimbingan sehingga kebutuhan anak sanggup terpenuhi dan tersalurkan dengan sebaik-baiknya menuju perkembangan kemampuan berhitung yang optimal.

Anak usia Taman Kanak-kanak ialah masa yang sangat strategis untuk mengenalkan berhitung di jalur matematika. Karena usia Taman Kanak-kanak sangat peka terhadap rangsangan yang diterima dan lingkungan. Rasa ingin tahunya yang tinggi akan tersalurkan apabila menerima stimulasi / rangsangan / motivasi yang sesuai dengan kiprah perkembangannya.

c. Perkembangan awal menentukan perkembangan anak selanjutnya
Hurlock (1993) menyampaikan bahwa lima tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya. Anak yang mengalami masa senang berarti terpenuhinya segala kebutuhan baik fisik maupun psikis di awal perkembangannya diamalkan akan sangat melaksanakan tugas-tugas perkembangan selanjutnya.

Dalam studi klinis semenjak bayi hingga berilmu balig cukup akal yang dilakukan oleh Erikson (dalam Elizabet B. Hurlock, 1978 : 26) menyimpulkan bahwa “masa kanak-kanak merupakan citra awal manusia, kawasan dimana kebaikan dan sifat jelek akan berkembang mewujudkan diri, meskipun lambat tetapi pasti”.

Selanjutnya Erikson menerangkan, apa yang akan dipelajari seorang anak tergantung bagaimana orang bau tanah memenuhi kebutuhan anak akan makanan, perhatian, cinta kasih. Sekali ia belajar, sikap demikian akan mewarnai persepsi individu akan masyarakat dan suasana sepanjang hidup.

Crumley.F.E. dkk, Gagne R.M. dan Smith, dkk (dalam Elizabeth B Hurlock, 1978 : 26) memperlihatkan bukti bahwa sejarah anak yang mempunyai kesulitan penyesuaian semenjak tahun-tahun prasekolah hingga sekolah menengah atau universitas telah memperlihatkan bahwa banyak diantara mereka sangat jelek penyesuaian dirinya pada masa kecil hingga tidak pernah dalam suatu kelompok atau mempunyai banyak teman. Sebagai tambahan, banyak diantaranya menderita kesulitan berbicara, sekolah, serta enuretik dan keluarga mereka menganggapnya sebagai “anak yang penuh masalah”. Dari studi riwayat anak nakal, Glueck (dalam Elizabeth B Hurlock, 1978 : 26) menyimpulkan bahwa remaja yang berpotensi menjadi nakal, sanggup diidentifikasi sedini usia dua atau tiga tahun alasannya sikap anti sosialnya.

Prinsip-Pinsip Permainan Berhitung permulaan
1. Permainan berhitung diberikan secara bertahap.
2. Penget dan ket pd permainan berhitung dibrkn scr bertahap.
3. Permainan brhtng akan berhasil kalau anak diberi kesempatan berprtsp
4. Permainan brhtng membutuhkan suasana menyngkn dn rasa aman.
5. Bahasa yg dipakai seyogyanya yg sederhana.
6. Anak dikelompokkan sesuai dg tahap penguasaanya.
7. Dalam mengevaluasi hasil perkemb harus dimulai dari awal smp akhir

Landasan Teori Permainan Berhitung 

1. Tingkat perkembangan mental anak
Jean Piaget : Anak usia Taman Kanak-kanak berada pada tahapan pra-operasional konkrit yaitu tahap persiapan kearah pengorganisasian pekerjaan yg konkrit dan berpikir intuitif dimana anak bisa mempertimbangkan perihal besar, bentuk dan benda-benda didasarkan pd interpretasi dan pengalamannya ( persepsinya sendiri ).

2. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar.
Apabila anak sudah menerangkan masa peka ( kematangan ) unt berhitung maka ortu dan guru Taman Kanak-kanak harus tanggap.

3. Perkembangan awal menentukan perkembangan selanjutnya.
Hurlock( 1993 ) : Bahwa lima tahun pertama dlm kehidupan anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya.Anak yg mengalami masa senang berarti terpenuhinya segala kebutuhan baik fisik mapun psikis di awal perkembangannya diramalkan akan dpt melaksanakan kiprah perkembanganKonsep bentuk warna, ukuran dan pola (TPP Permendiknas 58 ).

Usia 4 – < 5tahun
1. Mengklasifikasikan berdasarkan bentuk atau warna atau ukuran
2. Mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok yg sejenis atau kelompok yang berpasangan dengan 2 variasi
3. Mengenal pola AB-AB dan ABC-ABC
4. Mengurutkan benda berdasarkan variasi ukuran atau warna.

Usia 5 – < 6 tahun
1. Mengenal perbedaan berdasarkan ukuran “ lebih dari “ “ kurang dari “ dan “ paling ter “
2. Mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk dan ukuran ( 3 variasi )
3. Mengklasivikasikan benda yang lebih banyak ke dalam kelompok yg sama atau kelompok yg sejenis atau kelompok berpasangan yg lebih dari 2 variasi
4. Mengenal pola ABCD – ABCD
5. Mengurutkan benda berdasarkan ukuran dari paling kecil ke paling besar atu sebaliknya
tahapan penguasaan berhitung dijalur matematika yaitu :
1. Penguasaan konsep Pemahaman dan pengertian sesuatu dg memakai benda dan kejadian konkrit, spt pengenalan warna, bentuk dan menghitung bilangan.
2. Masa Transisi
Proses berfikir yg merupakan masa peralihan dr pemahaman konkrit menuju pengenalan lambang yg abstrak, dimana benda konkrit itu masih ada dan mulai dikenalkan bentuk lambangnya. Dilakukan guru secara sedikit demi sedikit sesuai dg laju dan kecepatan kemampuan anak secara individual.
3. Lambang
Merupakan visualisasi dari banyak sekali konsep contohnya lambang 7 unt menggambarkan konsep bilangan tujuh, merah untuk menggambarkan konsep warna, besar unt menggambarkan konsep ruang dan persegi empat unt menggambarkan konsep bentuk.

Konsep berhitung yg harus dikenalkan kpd anak :
1. Korespondensi Satu Satu
Pertama mulailah dg mencoba-coba membilang dr tingkatan yg sangat sederhana.contoh : satu buku, satu pensil,dst.
2. Pola
Pola merupakan kemampuan unt memunculkan pengaturan sehingga anak bisa memperkirakan urutan berikutnya sesudah melihat bentuk 2-3 pola yg berurutan.
3. Memilah/menyortir/klasifikasi
pengelompokan berdasarkan atribut, bentuk, ukuran, jenis warna,dll.
4. Membilang
Menghafal bilangan merupakan kemampuan mengulang angka yg akan membantu pemahaman anak akan arti sebuah angka.contoh : 1 2 3 4 5 6 7 8………dst.
5. Makna angka dan pengenalannya
Setiap angka mempunyai makna dr benda-benda/simbul-simbul = 3 bintang Dikenalkan pd bentuk-bentuk yg sama/tdk sama, besar kecil dsb.
6. Ukuran
Anak perlu mengalaman akan mengukur berat, isi, panjang dg cara mengukur pribadi sehingga prosesmenemukan angka dr sebuah objek.
7. Dua hal ini merupakan bab dr proses kehidupan sehari-hari.
Contoh :Waktu : 1 hari Ruang : Sempit 2 hari Luas
8. Penambahan dan pengurangan
2 hal sanggup dikenalkan pd anak pra sekolah dg memanipulasi benda.
contoh : Penambahan  4+2= 6
contoh : Pengurangan 5-2=3

Konsep klasifikasi/pengelompokan
Kegiatan meletakkan benda- benda ke dalam sebuah kelompok dengan cara memilah benda- benda yang mempunyai satu atau lebih ciri sama ( ibarat )dan merupakan keterampilan dasar dalam membentuk pola grafik, bangun, ruang dan pengukuran
Jalur Matematika Di TK
1. Bermain pola
Anak diharapkan dpt mengenal dan menyusun pola-pola yg terdapat disekitarnya.Anak bisa menciptakan urutan pola sendiri sesuai dg kreativitasnya.
2. Bermain Klasifikasi
Anak diharapkan dpt mengelompokkan atau menentukan benda berdasarkan jenis, fungsi, warna, bentuk pasangannya sesuai dg yang dicontohkan dan kiprah yg diberikan oleh guru.
3. Bermain Bilangan
Anak diharapkan bisa mengenal dan memahami konsep bilangan, transisi dan lambang sesuai dg jumlah benda-benda pengenalan bentuk lambang dan dpt mencocokan sesuai dg lambang bilangan.
4. Bermain Ukuran
Anak diharapkan dpt mengenal konsep ukuran standard yg bersifat informal atau alamiah, mirip panjang, tinggi, dan isi melalui alat ukur alamiah, antara lain jengkal, jari, langkah, tali, tongkat
5. Bermain Geometri
Anak diharapkan sanggup mengenal dan menyebutkan banyak sekali macam benda berdasarkan bentuk geometri dg cara mengamati benda benda yg ada disekitar anak mis lingkaran,segitiga,bujur sangkar, segi empat, segi lima,segi enam,setengah lingkaran,bulat telur (oval).
6. Bermain estimasi (memperkirakan)
Anak diharapkan sanggup mengenal kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu mis asumsi terhadap waktu, luas jumlah ataupun ruang.Anak terlatih untuk mengantisipasi banyak sekali kemungkinan yg akan dihadapi
Perkiraan waktu misalnya:
Berapa hari biji tumbuh
Berapa usang kita makan
Berapa usang anak sanggup memantulkan bola
Berapa ketukan gambarnya selesai
Perkiraan jumlah:berapa jumlah ikan yg ada dalam aquarium.
Perkiraan ruang contohnya : Berapa anak bergandengan untuk sanggup mengelilingi kelas ini.
7. Bermain Statistika.
Anak diharapkan sanggup mempunyai kemampuan untuk memahami perbedaan dalam jumlahdan perbandingan dan hasil pengamatan terhadap suatu obyek (dalam bentuk visual
PERSIAPAN MEMBACA MENULIS PERMULAAN
Melalui Permainan
TK Merupakan forum Pra akademik artinya :
  • Tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membelajarkan ket membaca dan menulis, melainkan menjadi tanggung jawab forum SD
  • Pembelajaran persiapan membaca dan menulis di Taman Kanak-kanak hendaknya diberikan secara terpadu dalam pengembangan Bahasa dan Motorik
  • Alur pemikiran tersebut tidak sejalan dg praktik kependidikan di Taman Kanak-kanak maupun SD di Indonesia.Pergeseran tanggung jawab seolah olah telah bergeser dari SD ke TK.
Keaksaraan (Permendiknas 58)
► TPP Usia 4-5 tahun
1. Mengenal simbol simbol
2. Mengenal bunyi suara binatang / benda benda yang ada disekitarnya
3. Membuat coretan yang bermakna
4. Meniru huruf
► Usia 5-<8 tahun
1. Menyebutkan simbol simbol huruf yang dikenal
2. Mengenal bunyi huruf awal dari nama benda benda yang ada disekitarnya
3. Menyebutkan kelompok gambar yang mempunyai bunyi / huruf awal yang sama
4. Memahami relasi antara bunyi dan bentuk huruf
5. Membaca nama sendiri
6. Menuliskan nama sendiri.

Munculnya keaksaraan
Keaksaraan tidak hanya ditandai dengan kemampauan untuk anak membaca dan menulis huruf atau kata-kata, tetapi yang terpenting anak memahami setiap kata dan kalimat dalam tulisan.
Kata pertama harus bermakna bagi anak. Kata itu harus merupakan bab dari dirinya. Harus merupakan ikatan yang organik, secara organik lahir dari dinamika hidup itu sendiri. Harus kata yang sudah menjadi bab dari dirinya. Kata pertama, buku pertama harus dibentuk oleh anak itu sendiri. Saya masuk kedalam otak anak, membawa keluar apa yang saya temukan disana dan menggunakannya sebagai materi kerja pertama. Ini ialah kosakata penting bagi mereka.(Sylvia Ashton Warner-1963)
Apa itu Keaksaraan :
► Membangun kemampuan anak untuk mengenal huruf dan angka
► Pengetahuan yang dibangun dalam keaksaraan :
1. BAHASA
2. MATEMATIKA
3. KESADARAN LINGKUNGAN
Kemampuan yang diharapkan untuk menulis
► Mengenal bentuk
► Mengenal perbedaan bunyi huruf
► Mengenal rangkaian (pola)
► Kekuatan jari-jari tangan
► Kelenturan gerakan pergelangan tangan
► Anak akan benar-benar tertarik huruf dan angka ketika mereka sudah pada tahap perkembangan usia empat tahun.
► Enam tulang pergelangan tangan yang diharapkan untuk menulis pada buku tulis, belum sepenuhnya berkembang hingga usia tujuh tahun.
Tujuan Konsep Bahasa
1. Menambah kosakata baru
2. Mendengar musik dan membedakan bunyi
3. Memahami dan mengikuti alur cerita
4. Menggunakan buku dan media
5. Menjadikan anak senang membaca, mendengar, dan menulis
TUJUAN
 Mendeteksi kemampuan awal membaca dan menulis anak(Perbedaan individual hasil intervensi )
 Mengembangkan kemampuan menyimak, menyimpulkan dan mengkomunikasikan banyak sekali hal melalui banyak sekali bentuk gambar dan permainan
 Melatih kelenturan motorik halus anak melalui bentuk permainan olah tangan dalam rangka persiapan membaca dan menulis
Perkembangan kemampuan berbahasa 4 – 6 tahun
• Mampu memakai kata ganti saya dalam berkomunikasi
• Memiliki banyak sekali perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata tanya dan kata sambung.
• Menunjukan pengertian dan pemahaman perihal sesuatu.
• Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan memakai kalimat sederhana.
• Mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar.

PERKEMBANGAN POTENSI KEMAMPUAN BERBAHASA MUNCUL DITANDAI BERBAGAI GEJALA
 Senang bertanya dan memberi informasi perihal sesuatu hal
 Berbicara sendiri dg alat atau tanpa alat spt bboneka,mobil mainan dsb.
 Mencoret coret buku atau dinding
Gejala ini mrpkn tanda munculnya banyak sekali jenis potensi tersembunyi(hidden potency) menjadi potensi tampak (actual potency).Apabila tdk diberikan rangsangan potensi akan kembali menjadi potensi tersembunyi dan lambat laun berkurang hingga sel saraf mati. 

TAHAPAN PERKEMBANGAN MEMBACA
Melibatkan unsur Auditif ( Pendengaran ) dan Visual (Pengamatan ) Kemampuan membaca di mulai ketika anak senang membolak-balikbuku.
1. Tahapan Fantasi ( Magical Stage ).
Anak berguru memakai buku, membolak-balik buku, membawa
buku kesukaannya.Guru atau Ortu menerangkan pola model
perlunya membaca, membacakan cerita.
2. Tahap Pembentukan Konsep Diri ( Self Concept Stage ).
Anak memandang dirinya sbg pembaca, akal-akalan membaca,
memberi makna pd gambar.Ortu memberi rangsangan membacakan
sesuatu.
3. Tahap Membaca gambar ( Bridging Reading Stage ).
Anak sadar cetakan yg tampak sanggup menemukan kata yg sudah di-
kenal, sanggup mengulang kisah yg tertulis, sudah mengenal abjad.
Guru memberi kesempatan menulis sesering mungkin.
4. Tahap Pengenalan Bacaan ( Take-off Reader Stage ).
Anak mulai memakai tiga sistem kode ( graphoponic, semantic,
dan syntactic ) secara bersama-sama.Anak tertarik pd bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pd konteknya, berusaha mengenal gejala pd lingkungan serta membaca banyak sekali tanda spt kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan.Guru masih tetap membacakan sesuatu shg mendorong anak membaca sesuatu pd berbgai sesuatu, jgn memaksa anak membaca huruf secara sempurna.
5. Tahap membaca Lancar ( Independent Reader Stage ).
Anak dpt membaca banyak sekali jenis buku.Ortu dan Guru msh tetap
membacakan banyak sekali jenis buku.
Untuk memperlihatkan rangsangan trhdp munculnya banyak sekali potensi
keberbahasaan maka permainan dan banyak sekali alat memegangperanan penting.

TAHAPAN PERKEMBANGAN MENULIS
Menulis merupakan ekspresi/ungkapan dr bahasa ekspresi ke dalam suatu bentuk goresan/coretan. Kegiatan awal menulis di mulai ketika anak akal-akalan menulis dlm bentuk coretan hingga anak bisa menirukan bentuk goresan pena sesungguhnya.
1. Tahap Mencoret atau Membuat Goresan ( Scrible Stage )
Anak mulai menciptakan gejala memakai alat tulisnya,
membuat coretan acak ( Tidak Teratur ),coretan sering kali
digabungkan seakan-akan tidak prnh lepas dr kertas.Ortu seharusnya
menyediakan jenis-jenis materi unt menulis.Anak menganggap
goresan sbg tulisan.
2. Tahap Pengulangan secara Linear ( Linear Repetitive Stage ).
Anak menelusuri bentuk goresan pena yg mendatar ( Horizontal ) atau
garis tegak lurus.
3. Tahap Menulis Secara Random/acak ( Random Letter Stage ).
Anak berguru perihal banyak sekali bentuk sbg suatu goresan pena dan
menggunakan itu semua biar dpt mengulang banyak sekali kata dan
kalimat.Anak menghasilkan garis yg berisi pesan yg tdk mempunyai
keterkaitan pd suatu bunyi dr banyak sekali kata.
4. Tahap Berlatih huruf (menyebutkan huruf huruf)
Kebanyakan anak anak , biasanya tertarik huruf huruf yang membentuk namanya sendiri.
5. Tahap menulis Tulisan nama (letter-name writing or phonetic writing)
Anak mulai menyusun relasi antara goresan pena dan bunyi
Anak senang menuliskan nama pendek panggilan mereka melalui pola yang mereka lihat dengan huruf huruf besar atau kecil.Semakin berkembangnya penguasaan kosa kata anak serta kemampuannya dalam berkomunikasidg orang lain akan berdampak terhadap fungsi kognitifnya.
6. Tahap menyalin Kata-kata yang ada di Lingkungan.
Anak menyukai menyalin kata-kata yg terdapat pada poster di dinding atau dari kantong kata sendiri.
7. Tahap Menemukan Ejaan
Anak usia 5-6 tahun ini telah memakai konsonan awal (L untuk Love) konsonan awal tengah simpulan untuk mewakili huruf (DNS) pada kata dinosaurus
8. Tahap Ejaan Sesuai ucapan
Anak mulai sanggup mengeja suatu goresan pena berupa kata kata yg dikenalnya sesuai yg didengarnya.

PENDEKATAN PERMAINAN MEMBACA DAN MENULIS DI TK
Pendekatan Permainan Membaca.
1. Metode Sintesis
Didasarkan pada teori asosiasi, suatu unsur(mis huruf) akan bermakna bila dihubungkan dengan unsur lain(huruf lain) sehingga membentuk suatu arti. Permainan membaca ini dilakukan dg memakai dukungan gambar pd setiap kali memperkenalkan huruf, mis a disertai gambar ayam.
2. Metode Global
Didasarkan pada teori ilmu jiwa keseluruhan (gestalt).Keseluruhan mempunyai makna yg lebih dibanding dg unsur-unsurnya.Kedudukan setiap unsur hanya berarti kalau mempunyai kedudukan fungsional dalam suatu keseluruhan. Contoh unssur “a”bermakna kalau “a” ini fungsional dlm kata atau kalimat mis “ ayam berlari”Atas dasar ini Membaca permulaan pd metode global dimulai dg memperkenalkan kalimat,dipilih kalimat perintah biar anak melaksanakan hal yg ada dlm perintah tsb spt “ambil apel itu”.

Pendekatan Permainan Menulis
Dalam pengembangan kemampuan menulis, dalam hal ini untuk memperkenalkan huruf, anak diminta unt meraba dan menelusuri dg jarinya suatu huruf.Sebagai pola ketika memperkenalkan goresan pena dari huruf “a” yg terbuat dari materi ampelas bergairah di atas kertas.Agar anak dpt melatih kelenturan tangan, maka dpt dilatih unt mengisi lukisan dg garis ( mengarsir ) dan menebalkan.Kegiatan mengarsir tdk hanya dilakukan dg pensil hitam melainkan jg dg pensil berwarna.

Identifikasi Kemampuan Membaca dan Menulis
1. Permainan membaca
Meliputi kemampuan mendengar, melihat dan memahami, berbicara dan membaca gambar.
2. Permainan menulis
a. Persiapan menulis contohnya : meronce, mewarnai, menjahit,
melipat, menganyam, mencetak, membatik dsb.
b. Bentuk goresan pena contohnya : mencoret ( menarik garis datar, tegak dsb)
Tulisan horisontal, menulis acak,menulis nama bil(mencontoh angka
1-10,mlis angka1-10)

PENGALAMAN-PENGALAMAN MOTORIK HALUS
• Penjepit besar dipakai untuk mengelompokkan bahan-bahan
Penjepit kecil dipakai dengan huruf kecil dari pasta
> Pensil–macam-macam ukuran
> Spidol dan krayon macam-macam ukuran
> Alat mirip obeng dan tang kecil dipakai untuk melepaskan bagian-bagian kecil
perkakas yang patah

Main Awal Keaksaraan untuk Bayi:
  • Anak pendengar aktif: mengajak anak bercakap-cakap pada setiap kesempatan; ketika menyusui, memandikan, memberi makan, mengganti popok, membangunkan,
  • Anak pengamat teliti: bercakap dengan memakai mimik muka di depan muka anak sesuai dengan intonasi suara
  • Membuat permainan: menciptakan suara, meniup, bernyanyi,
  • Membolehkan anak untuk memegang sendok untuk makan dan memegang kawasan minum ketika anak makan
  • Melatih jari tangan dengan menjumput kuliner kecil untuk dimakannya
  • Memasukkan benda ke wadah
  • Mendongeng
  • Membacakan buku buku 
Main yang mendukung keaksaraan untuk anak usia 1-2 tahun:
  • Bernyanyi lagu dengan irama sederhana yang diulang-ulang disertai gerakan sederhana
  • Mengajak anak berbicara dan mengenalkan nama benda dengan cara menempelkan kata di setiap benda
  • Membacakan buku yang sudah dikenal anak
Main yang mendukung keaksaraan untuk anak usia 2-3 tahun:
  • Bernyanyi lagu dengan irama sederhana yang diulang-ulang disertai gerakan sederhana
  • Membacakan buku yang sudah dikenal anak
  • Bertepuk tangan dengan ritme berulang, misalnya: plok plok – plok plok plok, plok plok – plok
  • Bermain tepuk tangan sambil menyebutkan nama anak, misalnya: A – ni – ta , A – ni , Mar – li – na , Sa – e – ful ,dst.
  • Merangkai dengan banyak sekali bentuk
  • Melibatkan anak ketika membereskan mainan yang sudah digunakannya untuk mengenalkan klasifikasi.
  • Bernyanyi dengan gerak dan irama sederhana, dilakukan secara berulang-ulang
  • Membaca buku bersama anak secara berulang terus-menerus
  • Puzzle bentuk
  • Meronce
  • Menghadirkan buku-buku yang paling disukai anak.
  • Mengajak anak bertepuk tangan mengikuti irama
  • Menyebut nama anak dengan perlahan berdasarkan suku katanya.
  • Bermain dengan banyak sekali bentuk
  • Bermain puzle tunggal
  • Melibatkan anak ketika membereskan mainan
  • Memperkuat motorik bergairah anak dengan membolehkan anak bergerak bebas,
  • Melatih kekuatan motorik halusnya dengan cara memegang, meremas, menjumput, menjepit, merobek kertas, dll.
  • Main keaksaraan untuk mendukung kemampuan membaca anak usia 4-6 tahun
  • Buku – buku – buku – buku
  • Membolehkan anak untuk menentukan buku kisah yang diminatinya
  • Menuliskan nama anak, kemudian anak menyusunnya dengan memakai kartu huruf
  • Menuliskan kegiatan yang dikerjakan anak
  • Mendiskusikan kata gres yang didapatkan dari buku bacaan.
  • Bermain menuntaskan kata, contohnya bo + la = bola Menggabungkan kartu suku kata dengan mencocokkan kata yang telah dibentuk kader
  • Memancing kartu huruf sesuai nama sendiri
  • Mencetak huruf dengan playdough sesuai dengan namanya
  • Mencari kartu yang bertuliskan nama temannya
  • Membaca puisi yang memuat kata-kata yang hampir sama hurufnya, contohnya Tari senang menari, Tari juga senang berlari, dst
  • Membuat kisah dari kumpulan kalimat yang diucapkan anak.
  • Menuliskan nama anak dengan mengubah huruf awal dengan huruf yang sedang diperkenalkan, contohnya mengenalkan huruf S, nama Kania jadi Sania,
  • Mengelompokkan nama binatang yang huruf depannya sama, contohnya katak, kura-kura, kadal, dst.
  • Melibatkan anak ketika membereskan mainan yang sudah digunakannya
  • Bernyanyi dengan gerak dan irama sederhana, berulang-ulang
  • Membaca buku bersama anak, berulang terus-menerus
  • Puzzle bentuk
  • Meronce
  • Menghadirkan buku-buku yang paling disukai anak
  • Kegiatan yang mendukung kemampuan menulis anak 3-4 tahun
  • Membuat coretan pada kertas besar dengan crayon atau spidol.
  • Membuat coretan dengan batang kayu di tanah atau pasir
  • Melukis dengan cat jari
  • Menjepit biji-bijian atau buah-buahan terbuat dari kayu dengan wadah dan penjepit.
  • Mengocok air sabun dengan alat pengocok telur
  • Meremas: daun, koran bekas, parutan kelapa, ublek, tanah lempung, playdough, dll.
  • Mencetak playdough, tanah liat, pasir berair dengan cetakan huruf
  • Kegiatan menggunting
  • Main keaksaraan untuk mendukung kemampuan menulis anak usia 4-6 tahun
  • Menyediakan banyak sekali huruf, kata dan suku yang terkait dengan nama anak atau kata-kata yang sudah dikenal anak.
  • Melukis dengan kuas, dengan cat jari
  • Menjiplak huruf-huruf dengan memakai cetakan huruf
  • Menjiplak kata yang sudah ditulis guru
  • Mengingatkan anak untuk selalu menuliskan namanya pada setiap kertas kerjanya
  • Membuat buku dari kumpulan gambar anak dengan kisah yang ditulis anak
  • Membuat kata-kata yang paling sering diucapkan kader untuk ditunjukkan kepada anak ketika kader menyebutkan kata tersebut, kemudian anak menuliskannya. Misalnya kata ”terima kasih” ” maaf” ”tolong”.
  • Menyediakan kertas, pensil, craton, spidol warna di setiap kawasan yang disukai anak.
  • Memberi kesempatan bawah umur untuk mengurutkan, mengklarifi-kasikan, menyusun pola, dan mengorganisasikan materi serta menyediakan pengalaman awal menulis dan membaca.
  • Dirancang secara khusus untuk memperkuat keterampilan dan pengetahuan tersebut
Lima langkah yang harus diulang-ulang
• Pilih mainan yang diinginkan
• Selesaikan hingga tuntas
• Tunjukkan pada guru
• Rapikan kembali
• Pilih mainan yang lain.

AREA MASAK / SENTRA MASAK
Dalam area Masak atau pusat masak juga sanggup dikembangkan secara utuh kegiatan yang terkait dengan keaksaraan dan berhitung permulaan. Sentra / Area ini sangat kental dengan keaksaraan (huruf, angka, bunyi, dll) dan sains. Dalam pusat masak terdapat beberapa hal pokok yang sanggup meningkatkan perkembangan anak dalam hal keaksaraan dan angkanya yaitu antara lain:
Konsep matematika menjadi kegiatan yang nyata
Anak melihat banyak perubahan yang terjadi yang merupakan sebuah proses.
Anak mempunyai wawasan yang memperkaya ruang pengetahuannya
Anak berkembang secara sosial dalam keterampilan aksaranya. dll.

Sumber : Dirangkum dari banyak sekali sumber !!